Tugas Proyek Pelajaran Fisika Kelas XI Semester Ganjil
Guru Fisika: Indri Dayana, M.Si
Tujuan Pembelajaran Dinamika Rotasi dan Keseimbangan Benda Tegar:
Agar pembaca mengetahui dan paham akan pembelajaran dinamika rotasi dan keseimbangan benda tegar.
A.Rotasi Benda Tegar
dengan:
W = usaha (J)
Ï„ = momen gaya atau torsi (N m)
θ = perpindahan sudut
C.Gabungan Energi Kinetik Translasi dan Rotasi
Besarnya energi kinetik benda tegar yang menggelinding dapat dinyatakan dengan persamaan berikut ini:
(a) translasi murni, (b) rotasi murni dan (c) gabungan
6.Hukum Newton pada Gerak Rotasi
SOAL
1.Silinder padat memiliki massa 2 kg dan jari-jarinya 13 cm, menggelinding pada lantai dengan kecepatan 25 cm/detik. Energy kinetic silinder tersebut adalah…
2.Batang AB homogen dengan berat 400 N terikat pada tali dengan ujung yang satu berengsel pada ujung yang lain. Pada batang tersebut digantungkan beban 600 N sehingga seimbang. Panjang AB = 3 m dan AC = 1,2 m sehingga besar tegangan tali adalah…
3.Sebuah batang yang diabaikan massanya dipengaruhi tiga buah gaya FA = FC = 10 N dan FB = 20 N seperti gambar. Jika jarak AB = BC = 20 cm, maka besar momen gaya terhadap titik C adalah…
Guru Fisika: Indri Dayana, M.Si
Tujuan Pembelajaran Dinamika Rotasi dan Keseimbangan Benda Tegar:
Agar pembaca mengetahui dan paham akan pembelajaran dinamika rotasi dan keseimbangan benda tegar.
A.Rotasi Benda Tegar
Dalam hal ini, benda yang bergerak rotasi dapat dideskripsikan dengan baik dengan menggunakan konsep benda tegar.
Apakah yang dimaksud dengan benda tegar?
Benda tegar didefinisikan sebagai benda yang tidak mengalami perubahan bentuk ketika suatu gaya dikerjakan padanya.
1.Momen Gaya
Dalam hal ini, penyebab suatu benda melakukan gerak rotasi dinamakan momen gaya atau torsi.
Dalam
fisika, momen gaya (torsi) didefinisikan sebagai hasil perkalian silang
antara vektor posisi titik kerja gaya terhadap poros (r) dengan vektor gaya (F).

dengan:
vektor momen gaya (N m)
r vektor posisi titik kerja gaya terhadap poros (m)
F vektor gaya (N)
r vektor posisi titik kerja gaya terhadap poros (m)
F vektor gaya (N)
Berdasarkan konsep perkalian silang vektor, maka besar vektor momen gaya dapat dinyatakan sebagai berikut:
Dimana
adalah sudut antara gaya dengan lengan gaya.

2.Momen Kopel
Pasangan
dua buah gaya yang sama besar, mempunyai garis kerja yang sejajar
(tidak berimpit), dan arahnya berlawanan disebut kopel.
Kopel
yang bekerja pada sebuah benda dapat menyebabkan benda tersebut
bergerak rotasi, tetapi tidak menyebabkan benda bergerak translasi.
Dengan demikian, kopel dapat menimbulkan momen terhadap benda. Momen
yang dihasilkan oleh kopel disebut momen kopel.
Secara
matematis, nilai momen kopel sama dengan hasil kali nilai gaya (F)
dengan jarak tegak lurus antara kedua garis gaya, yaitu:
M=Fd
dengan:
M=momen kopel (N m)
F =gaya (N)
d =lengan kopel (m)
Momen kopel ada 2 jenis, yaitu kopel positif dan kopel negatif
- momen kopel positif
- momen kopel negatif
3.Momen Inersia
Momen
inersia sebuah partikel yang berotasi pada porosnya didefinisikan
sebagai hasil kali massa partikel dengan kuadrat jarak partikel terhadap
sumbu putarnya atau porosnya.
Secara matematis, momen inersia dapat dituliskan sebagai berikut:

I=mr²
dengan:
I =momen inersia partikel (kg m²)
m=massa partikel (kg)
r =jarak partikel terhadap porosnya (m)
4.Momentum Sudut
Momentum sudut didefinisikan sebagai vektor hasil kali momen inersia dengan kecepatan sudut.
Secara matematis, momentum sudut dinyatakan sebagai berikut:
dengan:
L momentum sudut (kg m2 /s)
I momen inersia (kg m2)
kecepatan sudut (rad/s)
L momentum sudut (kg m2 /s)
I momen inersia (kg m2)
A.Hubungan Momentum Sudut dengan Momen Gaya
Secara matematis, pernyataan ini dapat dinyatakan sebagai berikut:
Karena v = r . ω, maka:
Jadi, kedua ruas dikalikan dengan r, diperoleh:
Mengingat r . F = Ï„ dan m . r2 = I, maka:
Dengan I. ω adalah momentum sudut, sehingga:
Berdasarkan persamaan di atas, maka momen gaya merupakan turunan dari fungsi momentum sudut terhadap waktu.
B.Hukum Kekekalan Momentum Sudut
Secara matematis, hukum kekekalan momentum sudut ini dapat dinyatakan sebagai berikut:
Lm = La
Lm ωm =Ia ωa
5.Energi dan Usaha pada Gerak Rotasi
A.Energi Kinetik Rotasi
Untuk menentukan besarnya energi kinetik rotasi, kita dapat menentukannya dari energi kinetik translasi, yaitu:
dengan:
m = massa (kg)
v = kecepatan (m/s)
m = massa (kg)
v = kecepatan (m/s)
Secara matematis, energi kinetik rotasi dapat dinyatakan dengan persamaan:
dengan:
I = momen inersia (kgm²)
ω = kecepatan sudut (rad/s)
I = momen inersia (kgm²)
ω = kecepatan sudut (rad/s)
B.Usaha dalam Gerak Rotasi
Usaha merupakan besaran skalar yang nilainya adalah memenuhi persamaan:
dengan:
W = usaha (J)
Ï„ = momen gaya atau torsi (N m)
θ = perpindahan sudut
C.Gabungan Energi Kinetik Translasi dan Rotasi
Besarnya energi kinetik benda tegar yang menggelinding dapat dinyatakan dengan persamaan berikut ini:
EK=EKt + EKr
D.Hukum Kekekalan Energi Mekanik pada Benda yang Menggelinding
Secara matematis, hukum kekekalan energi mekanik untuk benda yang bergerak translasi dan rotasi dapat dinyatakan dengan persamaan berikut:
6.Hukum Newton pada Gerak Rotasi
Bila
diberikan terus-menerus, maka benda akan berotasi terus-menerus.
B.Keseimbangan Benda Tegar
Keadaan keseimbangan suatu benda tergantung pada percepatan benda.
1.Keseimbangan Partikel
Resultan gaya sama dengan nol jika gaya sama besar, berlawanan arah dan garis kerjanya sama.
Suatu partikel dikatakan dalam keadaan setimbang apabila resultan gaya yang bekerja pada partikel sama dengan nol.
ΣF = 0
Apabila partikel pada bidang xy, maka
syarat kesetimbangan adalah resultan gaya pada komponen sumbu x dan
sumbu y sama dengan nol.
ΣFx = 0
ΣFy = 0
2.Keseimbangan Benda Tegar
Kesetimbangan benda tegar adalah kondisi dimana
momentum benda tegar sama dengan nol. Artinya jika awalnya benda tegar
tersebut diam, maka ia akan tetap diam. Namun jika awalnya benda tegar
tersebut bergerak dengan kecepatan konstan, maka ia akan tetap bergerak
dengan kecepatan konstan.
Dapat disimpulkan bahwa suatu benda/sistem dikatakan setimbang jika ia memenuhi dua syarat berikut:
3.Titik Berat dan Titik Pusat Massa
Pusat massa dan titik berat suatu benda memiliki pengertian yang
sama, yaitu suatu titik tempat berpusatnya massa/berat dari
benda tersebut. Perbedaannya adalah letak pusat massa suatu
benda tidak dipengaruhi oleh medan gravitasi, sehingga letaknya
tidak selalu berhimpit dengan letak titik beratnya.
4.Jenis-Jenis Keseimbangan
Keseimbangan stabil atau keseimbangan mantap adalah keseimbangan yang dialami benda dimana benda akan kembali ke kedudukan seimbangnya semula setelah gangguan pada benda tersebut dihilangkan.
Keseimbangan labil adalah keseimbangan yang dialami benda dimana benda tidak akan kembali ke kedudukan seimbangnya semula setelah gangguannya dihilangkan, tetapi justru meningkatkan gangguan tersebut.
Keseimbangan netral atau keseimbangan indiferen adalah keseimbangan yang dialami benda dimana gangguan kecil yang diberikan pada benda tidak memengaruhi kedudukan keseimbangan benda.
CONTOH SOAL
1 Sebuah bola pejal bermassa 0,25 kg dan
jari-jari 20 cm berotasi dengan kecepatan sudut 20 rad/s. Berapakah momentum
sudut bola tersebut?
Penyelesaian:
m = 0,5 kg, R = 0,2 m, ω = 15 rad
bola pejal : k = 2/5
Momentum sudut bola
sebesar :
L = I ω
= (2/5) mR2. ω
= (2/5).(0,25).(0,2)2.
20
= 0,8 kg m2/s
2 Dua buah bola yang dihubungkan dengan kawat (massa kawat diabaikan) disusun seperti gambar. Besar momen inersianya adalah...
Pembahasan:
2 Dua buah bola yang dihubungkan dengan kawat (massa kawat diabaikan) disusun seperti gambar. Besar momen inersianya adalah...
Diketahui :
Massa
bola A (mA) = 200 gram = 0,2 kg
Massa bola B (mB) = 400 gram = 0,4 kg
Jarak antara bola A dan sumbu rotasi (rA) = 0
Jarak antara bola B dan sumbu rotasi (rB) = 25 cm = 0,25 meter
Jarak antara bola A dan sumbu rotasi (rA) = 0
Jarak antara bola B dan sumbu rotasi (rB) = 25 cm = 0,25 meter
Ditanya : Momen inersia (I) sistem=?
Jawab :
Momen inersia bola A
IA = (mA)(rA2) = (0,2)(0)2 = 0
IA = (mA)(rA2) = (0,2)(0)2 = 0
Momen inersia bola B
IB = (mB)(rB2) = (0,4)(0,25)2 = (0,4)(0,0625) = 0,025 kg m2
IB = (mB)(rB2) = (0,4)(0,25)2 = (0,4)(0,0625) = 0,025 kg m2
Momen inersia sistem partikel :
I = IA + IB = 0 + 0,025 = 0,025 kg m2 = 25 x 10-3 kg m2
I = IA + IB = 0 + 0,025 = 0,025 kg m2 = 25 x 10-3 kg m2
SOAL
1.Silinder padat memiliki massa 2 kg dan jari-jarinya 13 cm, menggelinding pada lantai dengan kecepatan 25 cm/detik. Energy kinetic silinder tersebut adalah…
2.Batang AB homogen dengan berat 400 N terikat pada tali dengan ujung yang satu berengsel pada ujung yang lain. Pada batang tersebut digantungkan beban 600 N sehingga seimbang. Panjang AB = 3 m dan AC = 1,2 m sehingga besar tegangan tali adalah…
3.Sebuah batang yang diabaikan massanya dipengaruhi tiga buah gaya FA = FC = 10 N dan FB = 20 N seperti gambar. Jika jarak AB = BC = 20 cm, maka besar momen gaya terhadap titik C adalah…
4.Silinder pejal berjari-jari 8 cm dan massa
2 kg. Sedangkan bola pejal berjari-jari 5 cm dan massa 4 kg. Jika kedua benda
tadi berotasi dengan poros melalui pusatnya maka tentukan perbandingan momen
inersia silinder dan bola!
5.Dari
gambar berikut, balok A mempunyai massa 2 kg dan balok B = 1Kg. bila gaya
gesekan antara benda A dengan bidang 2,5 Newton, sedangkan gaya gesekan tali
dengan katrol diabaikan, maka percepatan kedua benda adalah...
BAB I Dinamika Rotasi dan Keseimbangan Benda Tegar
Reviewed by Selitha Saniyyah
on
Desember 19, 2018
Rating:
Tidak ada komentar: